Supported By :
Minggu, 20 Mei 2012 |
Tekno0 Komentar  |  532 Pembaca

BUS LAYANG TANGKAL KEMACETAN
Ditulis Oleh :D.Handoko, Jakarta, Pada Tanggal : 22 - 09 - 2011 | 21:32:09

Kemacetan lalu lintas di kota-kota besar, bukan hanya milik Jakarta saja, tetapi telah menyebar ke hampir semua kota di Indonesia. Semarang misalnya, setiap hari juga dilanda kemacetan, terutama di jalan-jalan utamanya. Hal itu terjadi karena tidak ada pembatasan jumlah kendaraan bermotor, yang setiap tahunnya terus berkembang pesat. Sementara itu, jalan-jalan yang ada, tidak pernah dilebarkan. Jika dilebarkan pun, sifatnya sporadis.

Namun dalam waktu dekat ini, sudah ada solusi untuk mengatasi kemacetan itu, yaitu dengan diluncurkannya “Bus Layang”. Semboyannya, Bus Layang tangkal kemacetan. Benarkah? Rencananya, dimulai dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan segera menerapkan teknologi bus dengan sistem layang (elevated), sebagai pengganti proyek monorel yang resmi dihentikan. Pembangunan ditargetkan dimulai pada awal 2012 dan selesai pada 2014.

"Dengan teknologi ini maka haltenya di atas, penumpang naik turun pakai tangga," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristono, saat ditemui wartawan di Jakarta, baru-baru ini, seperti dilansir Okezone. Dijelaskan Pristono, bus layang akan dibangun menggunakan jalur melingkar (loop line). Berbeda dengan jalur bus Transjakarta yang menggunakan sistem radial (menyebar). Diprediksi jalur melingkar ini bisa mengangkut sekitar 45.000 penumpang per harinya.

"Dari analisis peramalan 20 tahun mendatang diperkirakan ada pertumbuhan signifikan mencapai 218.565 penumpang per hari pada 2035," kata dia. Terkait penyediaan armada, jelas Pristono, akan disediakan sebanyak 50 unit bus layang (gandeng), masing-masing dengan kapasitas 180 orang. Dengan jumlah ini, maka jarak antar bus kurang lebih hanya 3 menit. Sedangkan untuk tarif, diperkirakan berkisar Rp6.000 hingga Rp8.000. Namun Pristono menegaskan, subsidi masih akan digunakan seperti bus Transjakarta.

Halte-halte yang akan dibangun di antaranya Polda, SCBD, Bank Niaga, Bunderan Senayan, Gelora Bung Karno, Plasa Senayan, Palmerah, Pejompongan, Karet, Sudirman, Setiabudi Utara, Kuningan Madya, GOR Sumantri Casablanca, Kementerian Kesehatan, Kuningan Timur, dan Satria Mandala.

Dijelaskan Pristono, teknologi bus layang ini akan menggantikan teknologi monorel yang batal dilanjutkan. Dengan menggunakan bus layang, tandasnya, justru ada empat keuntungan yang bakal didapat. Pertama, pemerintah daerah tak perlu lagi membuat manajemen baru alias bisa melanjutkan manajemen Badan Layanan Usaha Transjakarta. Kedua, meminimalisir panjang jalur transit yang harus dilalui orang. Ketiga, dapat memperluas jangkauan pelayanan jaringan sehingga bisa lebih optimal. Dan keempat, meringankan beban pusat kota dari pergerakan untuk singgah.

Pembangunan monorel memang sudah mangkrak atau tertunda selama lebih dari tujuh tahun. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya memutuskan untuk menghentikan pembangunannya. Pemprov berpendapat, jika proyek tersebut diteruskan, investasi yang dibutuhkan untuk mengambil alih proyek menjadi terlalu mahal. (D.Handoko).

                                         -----------------------------------------------------------



KOMENTAR

Tidak Ada Komentar

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter