Supported By :
Selasa, 22 Mei 2012 |
Tekno0 Komentar  |  1213 Pembaca

HUBUNGAN SIDIK JARI DENGAN OTAK
Ditulis Oleh :arieska, Pada Tanggal : 02 - 06 - 2011 | 01:40:07

Masalah pola analisa sidik jari lewat finger print (FP) sekarang ini sedang ramai dibicarakan masyarakat, seperti halnya merebaknya pendidikan “otak tengah”. Tidak main-main, bahkan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Sarlito Wirawan Sarwono pun ikut angkat bicara, yang sudah dipublikasikan lewat Harian Seputar Indonesia, baru-baru ini. Menanggapi hal itu, di bawah ini beberapa pendapat tentang analisa sidik jari:

Pola sidik jari terbentuk sejak janin dalam kandungan usia 13 minggu – 19 minggu. Pola sidik jari juga bersifat herediter (diturunkan) dari orang tuanya. Pola sidik jari dipengaruhi oleh DNA seseorang. Pada th 1986, telah dilakukan penelitian oleh Dr. Rita Levi Montalcini dan Dr Stanley Cohen, tentang adanya korelasi antara Nerve Growth Factor (NGF) dan Epidermal Growth Factor (EGF). Pada penelitian ini ditemukan korelasi antara pola garis epidermal kulit, dengan sistem pertumbuhan saraf yang menunjukkan terdapatnya hubungan pola sidik jari dan otak.

Menurut para ahli, sistem saraf pusat itu terhubungkan dengan bagian-bagian dari otak. Dan otak merupakan pusat semua aktifitas fisik dan mental seseorang. Setiap bagian bagian otak, pada area pre frontal, frontal, occipital, parietal dan temporal mempunyai fungsi-fungsi yang berbeda dan kekuatan (dominansi) yg berbeda pula. Sehingga logis bila pola-pola sidik jari sesorang itu, bisa memanifestasikan kerja dari bagian-bagian otak tersebut.

Namun memang apa yg terekam pada sidik jari sekarang, tidak 100% merupakan manifestasi sesorang saat itu. Karena faktor pembentukan dan pendidikan oleh lingkungan juga ikut berperan.

Dr Syailendra WS. SpKJJakarta

                                       ----------------------------------------

 PENELITIAN ILMIAH METODE SIDIK JARI

Analisa sidik jari saat ini menjadi topik hangat yang diperdebatkan mengenai keabsahan ilmiahnya. Namun, perlu dipahami bahwa pemanfaatan sidik jari juga sudah dipergunakan dari dahulu. Hal ini dilakukan oleh Zhai Guijun, dalam makalahnya Report on Study of Multivariate Intelligence Measurement through Dermatoglyphic Identification, Beijing Oriental KeAo Human Intelligence Potential Research Institute Zhengzhou DongFangZhou Intelligence Measurement & Consultation Research Center Wuhan University Oriental Intelligence Research & Test Center, yang dipublikasi pada 15 april 2006.

Berikut kutipan pernyataan yang dibuat oleh Zhai Guijun dalam makalahnya :

I started to study the correlation of dermatoglyph (fingerprints) and human intelligence in

1988. Through 19-year continuous efforts, I have established a preliminary systematic method for intelligence measurement through Dermatoglyphic identification. I have successively made study, measurement and sampling of over 40 thousand people in 25 regions of China, and gradually improved the practice and theory of Multivariate Intelligence Measurement through Dermatoglyphic Identification, as well as made it highly reliable and effective.

The method of Multivariate Intelligence Measurement through Dermatoglyphic Identification passed the Science and Technology Achievement Appraisal (YKYCZ9212) by Henan Academy of Sciences on October 4, 1992,  and also passed the demonstration jointly presided by the Genetics Society of China, the Working Committee for Popular Science Activities under China Psychological Society, and the Working Committee for Health Care of Women and Children under China International Exchange and Promotive Association for Medical and Health Care (CPAM) on April 15, 2006.

Zhai Guijun mengemukakan bahwa dengan memanfaatkan sidik jari dalam penelitian ini hasil yang ia peroleh relatif konsisten dengan angka reliabilitas 0.798, 0.725, 0.840, dan 0.381 dengan melakukan pengukuran pada anak-anak sekolah dasar. Validitasnya adalah 0.995.

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini :

The study on multivariate intelligence measurement through dermatoglyphic identification (finger print) makes physiological and physical measurement of human intelligence possible.It is most likely an easily workable and accurate intelligence measurement before people can make precise determination of human intelligence from gene level.

It is possible to become the latest generation of intelligence measurement methods in succession to “Assessment Scale”. Multivariate intelligence measurement through dermatoglyphic identification is capable to accurately identify the intelligence difference and personality difference of individuals. Therefore it may be used by schools or institutions in making appropriate selection of different talents. Dermatoglyph is the external existence of human genes and brains, and may also be considered as a representation of DNA sequence.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan Zhai Guijun, finger print analysis dapat dijadikan sebagai salah satu metode untuk mengukur potensi yang dimiliki oleh individu.

Efnie Indrianie,M.Psi,PsikologBandung

                                    ------------------------------------------

FP MEMANDU BAKAT ANAK SAYA

Saya  seorang ibu rumah tangga biasa yg ingin mendidik anak-anak saya menjadi anak-anak yang sukses dimasa depan. Berbagai kursus yang bisa menunjang prestasi anak saya, saya coba ikutkan. Sampai suatu ketika, saya minta anak saya untuk ikut les vocal, dan piano. Soalnya, saya sendiri suka menyanyi dan berharap anak saya bisa menjadi seorang artis terkenal (hehehe cita-cita masa laluku yang tidak tercapai.

Si anak, Elisha namanya, kebetulan memang suka nyanyi di mobil. Banyak lagu yang cepat dia hafal sehingga saya pikir, ini bakat turunan dari saya nih. Akhirnya, Elisha ikut saja apa yang saya minta. Namun giliran dia harus tampil untuk konser, dia selalu terlihat sedih, seolah tidak ingin berangkat les, sampai harus saya bujuk dan marahin baru dia mau berangkat.

Ternyata dugaan saya benar, bahwa dihari H dimana dia harus tampil, dia benar-benar mogok, tidak mau naik panggung. Pada waktu itu saya benar-benar marah. Sudah saya duga, konser Elisha  pun "gatot", alias gagal total.

Suatu saat, saya bertemu dengan ipar saya dan mengajak saya untuk ikut “analisa sidik jari” buat putra-putri saya. Dia bilang, lewat finger print (FP) kita bisa tahu potensi dan bakat yang dimiliki seseorg dari lahir. Saya mau mencoba untuk meyakinkan diri saya, apakah selama ini, saya salah dalam mengarahkan bakat anak saya?  

Dan saya pun cukup terkejut, karena dari report dan penjelasan konsultan FP, ternyata Elisha tidak terlalu berbakat dalam musik. Dia justru lebih berbakat dalam seni lukis. Disamping itu, Elisha termasuk anak yang rasa percaya dirinya rendah. Itu sebabnya dia tidak mau tampil di panggung, terutama jika dia tidak yakin menguasai lagunya.

Sejak saat itu saya berhentikan dia dari kursus menyanyi, dan sebagai gantinya saya ikutkan dia kursus menggambar.Hasilnya, dia benar-benar menikmati, dalam membuat perpaduan warna-warna. Elisha menggambar, sesuai hasil analisa FP, hasilya sangat bagus. Ternyata bakat yang saya miliki, tidak semuanya menurun pada anak saya. Ternyata bakat melukis yang dimiliki Elisha lebih banyak menurun dari kakak saya.

Saya pikir, dengan FP kita bisa lebih mudah mendeteksi bakat anak-anak, secara lebih dini, sehingga mengurangi resiko coba-coba, dan bisa dihindari biaya yang terbuang percuma. Karena tanpa tools tersebut, seringkali kita hanya bisa meraba, dan mencoba, yang terkadang justru melelahkan bagi si anak, maupun ortu. Itulah pengalaman saya dengan FP.

Dewi NurshintawatiJl. Majapahit 166, Semarang                     (arieska)

                               ----------------------------------------------


KOMENTAR

Tidak Ada Komentar

Silahkan isi form dibawah ini untuk mengirim komentar Anda

Nama :


Email :


Isi Pesan :

Komentar maksimal 350 karakter