WASPADAI INVESTASI BODONG

WASPADAI INVESTASI BODONG

BERBAGI
Von Yudhiawan, penulis artikel.

Solo, (Obyektif.com) – Masyarakat belum lama ini dikejutkan dengan munculnya sosok fenomenal Taat Pribadi atau Kanjeng Dimas, yang diduga terkait pembunuhan anggota padepokannya, karena anggotanya tersebut tahu sepak terjangnya. Taat terkenal dan menjadi konsumsi berita besar-besaran, karena memberikan statement sanggup menggandakan uang. Namun sayang sekali kemampuan ini diragukan. Dinilai bukan merupakan kemampuan supranatural, tetapi hanya penipuan, dengan menggalang dana masyarakat

Sebenarnya masyarakat Indonesia sering dikejutkan dengan berbagai tindak penipuan berwujud iming-iming investasi atau pengembalian dana secara tidak masuk akal. Padahal hal-hal yang ditawarkan itu, sesungguhnya melebihi kemampuan suatu perusahaan memperoleh laba dalam setahun. Misalnya, beberapa waktu yang lalu, adanya kasus Cipaganti, D4F, Koperasi Simpan Pinjam “Mitra Mandiri Sejahtera” (KSP MMS), dan lain-lain, menawari dana yang menggiurkan yaitu menjanjikan pengembalian investasi dengan presentase yang tinggi.

Sebagai masyarakat awam, mereka tidak mengetahui apakah suatu investasi dapat dipertanggungjawabkan, atau tidak? Maka itu, sebelum bertindak menginvestasikan uangnya, masyarakat harus paham, apakah investasi itu aman atau hanya akal-akalan saja. Di bawah ini kami tunjukkan, beberapa ciri investasi bodong antara lain:

1.Produk ditawarkan secara langsung melalui bisnis jaringan, seperti multi level marketing.

2.Biasanya, penawaran produk investasi melalui media online, atau medsos, dengan berbagai iming-iming yang menarik.

3.Penawaran investasi diikuti oleh public figure.

4.Return investasi menggiurkan dalam jangka waktu pendek kurang dari setahun, dijanjikan sudah mendapat profit di atas deposito atau yang dijamin LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

5.Bentuk perusahaan dapat berupa PT, perseorangan, koperasi, perusahaan, baik di dalam dan di luar negeri.

Nah, apabila Anda sudah terlanjur untuk berinvestasi maka langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

1.Melaporkan kegiatan investasi tersebut kepada pihak OJK via email di: konsumen@ojk.co.id, dan tanyakan apakah hal tsb legal atau tidak?

2.Segera menarik investasi tersebut, supaya terhindar dari upaya penipuan, atau jerat investasi bodong.

Apabila masih tidak berhasil dapat melaporkan kepada kepolisian tentang investasi bodong itu, karena hal praktek investasi bodong illegal termaktub dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (“UU Perbankan”), yang mengatur bahwa pihak yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia (BI) dapat dikenakan pidana penjara sekurang-kurangnya lima tahun dan paling lama 15 tahun. Serta denda sekurang-kurangnya Rp10 miliar dan paling banyak Rp200 miliar.

Jika hal itu dilakukan oleh badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas, perserikatan, yayasan atau koperasi, maka penuntutan terhadap badan-badan dimaksud dilakukan baik terhadap mereka yang memberi perintah melakukan perbuatan itu, atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam perbuatan itu, atau terhadap kedua-duanya. Jadi amatlah jelas bahwa tindakan menghimpun dana dapat di katagorikan perbuatan melanggar hukum pidana dan pelaku dapat dijerat dengan pidana. Maka, waspadalah dan bijak dalam berinvestasi jangan tergiur hasil yang tidak masuk akal. (Von Yudhiawan).

izzaweb
BERBAGI